Postingan

Hadits-Hadits tentang Membaca surah Yasin Malam Jum'at

  واعلم أن المتبادر إلى أكثر الأذهان أنه ليس المطلوب قراءته ليلة الجمعة ويومها إلا الكهف وعليه العمل في الزوايا والمدارس وليس كذلك فقد وردت أحاديث في قراءة غيرها يومها وليلتها ، منها ما رواه التيمي في الترغيب من قرأ سورة البقرة وآل عمران في ليلة الجمعة كان له من الأجر كما بين البيداء أي الأرض السابعة وعروبا أي السماء السابعة وهو غريب ضعيف جدا …الى أن قال...وخبر أبي داود عن الحبر من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله وفيه انقطاع Artinya: “Ketahuilah bahwa yang terlintas di pikiran banyak orang, bahwa tidak ada bacaan yang dianjurkan di malam Jumat kecuali Surat al-Kahfi, membacanya sudah menjadi amaliah di beberapa surau dan madrasah. Anggapan demikian tidak benar. Sesungguhnya terdapat beberapa hadits tentang anjuran membaca surat selain al-Kahfi di malam dan hari Jumat. Di antaranya hadits riwayat al-Taimi dalam kitab al-Targhib, barangsiapa membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran di malam Jumat, ia mendapat pahala sebesar sesuatu di antara bumi ketujuh dan langit...

KAIDAH-KADIAH USHUL FIKIH ( bagian kedua )

 ﷽ 4. Pengertian Nahi ( Larangan ) النَهْيُ هُوَ طَلَبُ التَّرْكِ مِنَ الاَعْلَى اِلَى الاَدْنَى                   Nahi adalah tuntutan meninggalkan sesuatu yang datangnya dari orang yang lebih tinggi tingkatannya kepada orang yang lebih rendah tingkatannya. 5. Bentuk-bentuk nahi 5. A. Fi’il Mudhari yang didahului dengan “la nahiah” / lam nahi = janganlah Contoh ;   ِلَا تُفسِدُوا فِى الأَرض    5. B. Lafadz-lafadz lain yang memberikan pengertian haram atau perintah meninggalkan perbuatan / suatu larangan contoh ; وَأَحَـلَّ اللهُ البَيعَ وحَـرَّمَ الرِّبَا         6. Kaidah-Kaidah Nahi dan Maknanya a. Kaidah Pertama “Pada dasarnya larangan itu menunjukkan haram.” الاَصْلُ فِى النَهْيِ لِلتَحْرِيْمِ Tujuan adanya larangan pada dasarnya karena perkara tersebut tidak boleh dilakukan atau haram. Jadi hukum asal lara...

KAIDAH-KADIAH USHUL FIKIH

 ﷽ A. AMAR DAN NAHI 1. Amr (امر) Amr secara bahasa berasal dar bahasa Arab, yaitu suruhan, perintah, dan perbuatan. Sedangkan secara istilah, tuntutan perbuatan dari atasan kepada bawahan yang didalamnya terdapat kaidah istimbat hukum¹. Jadi, amar adalah suatu lafal yang digunakan oleh orang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah derajatnya agar melakukan suatu perbuatan. Begitu juga perintah Allah SWT kepada manusia. لفظ يطلب به الأعلى ممن هو أدنى منـه فعــلا من غير كــف       ‘Amr adalah lafaz yang digunakan oleh orang yang lebih tinggi kepada orang yang lebih rendah derajatnya untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak dapat ditolak. Untuk mengetahui bentuk amr dalam bahasa Arab, ada beberapa bentuk yang menunjukkan arti perintah. Bentuk-bentuk tersebut adalah sebagai berikut² : 2. Bentuk-Bentuk ‘Amr 2. A. Fi’il ‘Amr, seperti :  وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ .... "Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat...." An-Nur : 56...

DALIL -DALIL YANG MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI SAW

   Al-Imam Jalaluddin Al-Shuyuthi rhm (849-910 H/1445-1505 M) mengatakan di dalam risalahnya “Husnu al-Maqshid Fi ‘Amal al-Maulid” sebagai berikut : عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوِلِدِ الَّذِيْ هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ القُرْءَانِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ وَمَا وَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الآيَاتِ، ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْن­َ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذلِكَ هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالاسْتِبْشَار­ِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ. وَأَوَّلُ مَنْ أَحْدَثَ ذلِكَ صَاحِبُ إِرْبِل الْمَلِكُ الْمُظَفَّرُ أَبُوْ سَعِيْدٍ كَوْكَبْرِيْ بْنُ زَيْنِ الدِّيْنِ ابْنِ بُكْتُكِيْن أَحَدُ الْمُلُوْكِ الأَمْجَادِ وَالْكُبَرَاءِ وَالأَجْوَادِ، وَكَانَ لَهُ آثاَرٌ حَسَنَةٌ وَهُوَ الَّذِيْ عَمَّرَ الْجَامِعَ الْمُظَفَّرِيَّ­ بِسَفْحِ قَاسِيُوْنَ”. Artinya: “Menurutku...

(2) Nasab Beliau saw dan Wafat Ayahnya

•Ayah Beliau saw: Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaaf bin Qushaiy bin Kilaab • Ibu Beliau saw: Aminah binti Wahb bin Abdi Manaaf bin Zuhrah bin Kilaab - Dia pada saat itu adalah salah satu wanita Quraisy terbaik dalam garis keturunan dan kedudukan. -  • Nasab ibu dan ayah beliau bertemu di datuk beliau yang kelima yaitu Kilaab • Ayah Nabi saw meninggal dunia ketika nabi saw masih dalam kandungan, umur ayah beliau 18 tahun dan dimakamkan di Madinah, tidak meninggalkan harta sedikitpun untuk Nabi saw #SirohNabawiyah Khulasoh Nurul Yaqin fi Sirah Sayyid Al-Mursalin -- Umar Abdul Jabbar hal : 15 -- ٢. نَسَبُ النَّبِيِّ ﷺ وَوَفَاةُ أَبِيهِ كانَ أَبُ رَسُولِ الله ﷺ هُو عَبدُ اللهِ بنِ عَبدِ المُطَـلِّبِ بنِِ هَاشِـمِ بنِِ عَبدِ المَنَافِ بنِِ قُـشَيِّ بنِِ كِلَابٍ وَ أُمُّـهُ هي آمِنَـةَ - وَهِي يَومَئذٍ مِن أَفضَلِ نِسَاءِ قُرَيشٍ نَسَـبًا وَمَوضُعًا - بِنتِ وَهَبٍ بنِِ عَبدِ المَنَافِ بنِِ زَهرَةَ بنِِ كِلَابٍ.  ٱِلتَقَ نَسَبُ وَالِدَيهِ ﷺ فِي وَالِـدِ الجَـدِّ ...

PERIODE PERTAMA -- (1) Nabi kita, Muhammad saw

  Dari Kehidupan Rasulullah saw – Beliau saw adalah utusan الله kepada seluruh manusia, penutup Para Nabi dan Imam bagi para Rasul – Beliau saw membawa agama Islam, agama yang diterima الله sampai pada hari kiamat – Beliau saw adalah keturunan bangsa Quraisyi, suatu kaum yang termulia di Makkah – Nasab Beliau saw bersambung dengan Nabi Ismail bin Ibrahim as #SirohNabawiyah Khulasoh Nurul Yaqin fi Sirah Sayyid Al-Mursalin -- Umar Abdul Jabbar hal : 15 -- المُـدَّةُ الأُولَى  من حياة رسول الله ﷺ نَبِيُّـنَا, مُحَـمَّدٌ ﷺ. وَهُـوَ رَسُولُ اللهِ لِكُـلِّ الأُمَمِ, وَآخِـرِ الأَنبِيَاءِ وَ إِمَامِ الرُّسُلِ. جَاءَ بِالإِسلَامِ الَّذِي يُقَـبِّلُـهُ اللهُ إِلَى يَومِ القِيَامَةِ. وَيَكُونُ مِن نُـسُلِ القُـرَيشِ, الَّذِي أَشرَفُ عُرقِيَّةٍ في مَكَّـةَ. كَانَ النَّـسَبُ مُستَمِرَّةً إِلَى النَّبِيِّ إسماعيلَ بن إبراهيمَ عَلِيهِمَا السَّلَامُ He is Alloh's messenger to all minkind, The last prophets and the Imam of Apostles He brought Islam, the religion which is accepted by Allah unt...

Tinjauan Kritis Tentang Kata NGAJI HADITS

 Ngaji Hadits Judul kajian ngaji hadits itu terkadang bikin saya bingung. Apalagi kalau dikemas dengan judul Kajian Hadits Arbain atau Kajian Kitab Riyadhus-Shalihin. Bukan apa-apa, kedua kitab itu memang berisi kumpulan hadits. Yang menyusunnya juga ulama hebat yaitu Al-Imam AnNawawi (w. 676 H). Tapi saya kok merasa ada yang kurang pas kalau mengaji pakai dua kitab itu. Kenapa? Karena kedua kitab itu semata-mata hanya berisi matan hadits pilihan saja. Hanya ada matan dan sedikit sanad. Tidak ada Syarah atau penjelasannya. Padahal yang kita butuhkan dalam sebuah kajian Syarah dan bukan hanya matan-nya. Namanya juga kajian, isinya harus kajian, dan bukan semata baca matan. Isinya harus analisis dan bukan hafalan teks hadits. Itu sama saja bikin pengajian dengan judul Kajian Tafsir, tapi modalnya cuma mushaf. Tafsirnya? Hehe tafsirnya ngarang sendiri. Tafsirnya adalah tafsir yang disampaikan oleh pengisi kajian itu. Kajian Hadits Arbain itu sama juga. Isinya 100 persen analisa pihak ...